MAKALAH
AGAMA ISLAM
Pend.Agama
Islam-Mengenal Rasul
UNIVERSITAS
ISLAM ‘’45’’ BEKASI
9/27/2012
Antika
Zahrotul Kamalia
AKUNTANSI A
|
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan atas
kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi
kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa saya ucapkan kepada
dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam
menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin...
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin...
DAFTAR
ISI
Kata pengantar
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
B. PERUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN
PENULISAN MAKALAH
BAB
II PEMBAHASAN
A.DEFINISI RASUL
B.KEDUDUKAN RASUL
C.SIFAT-SIFAT RASUL
BAB
III PENUTUP
A.KESIMPULAN
B.CATATAN PENTING
C.DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Makalah ini
saya susun dalam rangka mencoba menyelesaikan tugas Mata Kuliah Metodologi
Studi Agama Islam yang berjudul “Mengenal Rasul”. Agar mengetahui
kekurangan maupun kelebihan mahasiswa dalam menjabarkan isi makalah sesuai
dengan pengetahuan kita serta bagaimana cara pembuatan makalah tentunya. Dan
juga sebagai penunjang untuk penilaian dari Bapak Dosen yang mengajarkan Mata
Kuliah Metodologi Studi Islam.
Sebagai muslim tentunya kita wajib
mengenal Rasullullah,beliau lah yang patut kita contoh baik secara bathin dan
secara dhohir. Dari banyaknya pengetahuan waktu demi
waktu tentang rasullullah yang untuk
kita pahami dari berbagai aspek yang
berkenaan yang sudah ada perlu di kaji secara seksama. Sehingga dapat menghasilkan
pemahaman yang komprehensif. Hal ini penting dilakukan,
karena pemahaman mengenal rasulullah karena sebagai umat yang beragama islam(muslim) ketahuilah
bahwa cinta kepada rasulullah telah menjadi kewajiban pribadi muslim untuk
mencintainya apalagi untuk mengenalnya.
Seseorang bisa di pertanyakan tentang
sallam. Untuk itu uraian di bawah ini diarahkan
untuk mendapatkan pemahaman tentang mengenal Rasullullah.
Selain itu dalam makalah kali ini yang
berjudul “Mengenal Rasul” dan yang akan di paparkan di dalamnya adalah
pengertian agama islam itu sendiri dan juga sumber-sumber hukum islam, dan ini
tentunya kita hanya mengulang untuk mengingat kembali pelajaran yang telah
lewat karena makalah yang akan saya bahas kali ini adalah sudah sering kita
pelajari dan ini hanya menginatkan kembali.
BAB II
PEMBAHASAN
A.DEFINISI
RASUL
Rasul adalah
orang laki-laki pilihan yang Allah berikan wahyu berisi syari’ah dan
diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaumnya.
Rasul adalah manusia pilihan yang
menerima wahyu dari allah untuk di sampaikan kepada umatnya dan sekaligus
sebagai contoh konkrit pribadi manusia yang baik. Rasul-rasul allah itu ada
yang kisah-kisahnya di sebutkan dalam al-qur’an adapula yang tidak. Rasul yang
disebutkan namanya ada 25 orang.
Rasul dan nabi sama-sama mendapatkan
wahyu, tetapi sering kali seorang Nabi diutus Allah kepada kaum yang memang
sudah beriman sehingga perannya hanya menjalankan syari’ah yang sudah ada itu
dan tidak membawa ajaran yang baru. Seperti para Nabi yang pernah Allah utus
kepada Bani Israil setelah ditinggalkan Nabi Musa, mereka bertugas mengajarkan
dan mengamalkan Taurat, tidak membawa ajaran yang baru/bukan dari Taurat. (QS.
2: 246).
Di sinilah rahasia sabda Nabi : al
ulama waratsatul (pewaris) Anbiya, bukan waratsaturrasul, karena peran ulama
hanya terbatas pada menyampaikan ajaran agama yang ada bukan membuat aturan
baru.
B.Kedudukan Rasulullah
Diantara
kedudukan Rasulullah:
1. Sebagai Rahmat di muka bumi (QS: 21;107)
2. Sebagai Nabi penutup (QS: 33;40)
3. Sebagai suri tauladan (QS: 33;21)
1. Sebagai Rahmat di muka bumi (QS: 21;107)
2. Sebagai Nabi penutup (QS: 33;40)
3. Sebagai suri tauladan (QS: 33;21)
Rasulullah
juga sama seperti hamba yg lain (Abdu min Ibadillah), hal ini bisa dilihat
dalam QS: 18;110, QS: 13:38, bahkan Rasulullah jalan2 dan makan di pasar (QS:
25;7). Rasulullah juga merupakan Rasul diantara para Rasul QS: 3; 144. Adapun
tugas Rasul adalah menyampaikan Risalah QS: 72;28 dan Amanah serta memimpin
Ummat QS: 5;67. Perjuangan Rasul dalam ajaran Islam (Fikrud Sirah, QS: 12;111).
Dalam hukum (Fikrud Ahkom, QS: 4;65)
C.SIFAT-SIFAT RASUL
SIFAT-SIFAT
WAJIB RASUL
1. SHIDIQ
(JUJUR)
Setiap
rasul pasti jujur dalam ucapan dan perbuatannya. Apa apa yang telah disampaikan
kepada manusia baik berupa wahyu atau kabar harus sesuai dengan apa yang telah
diterima dari Allah tidak boleh dilebihkan atau dikurangkan. Dalam arti lain
apa yang disampaikan kepada manusia pasti benar adanya, karena memang bersumber
dari Allah. Makanya setiap rasul pasti jujur dalam pengakuan atas kerasulannya.
Dan kita sebagai manusia harus meyakinkanya dan beri’tikad bahwa semua yang
datang dari Rasul baik perkataan atau perbuatan adalah benar dan hak. Karena
apa yang diucapkan atau diperbuat oleh para rasul bukan menurut kemauannya
sendiri. Ucapan dan perbuatannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
atau risalah yang diterima dari Allah.
Sebagai
bukti atas kebenaran para rasul, mereka telah dibekali dengan mukjizat mukjizat
yang harus diyakini oleh setiap muslim kebenaranya. Dan tidak mungkin harus
diyakini dan diteladani jika mereka (para rasul) itu tidak jujur. Tentu setelah
itu apa yang telah diperintahkan Allah melalui perantaraan para rasul, kita
sebagai muslim harus mengikuti dengan ta’at dan apa yang dilarang Allah kita
tinggalkan.
وَمَآ آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ
فَانتَهُواْ
”Apa yang
diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu
maka tinggalkanlah,” (al-Hasyr, 7)
2. AMANAH
(DIPERCAYA)
Amanah
berarti bisa dipercaya baik dhahir atau bathin. Sedangkan yang dimaksud di sini
bahwa setiap rasul adalah dapat dipercaya dalam setiap ucapan dan perbuatannya.
Para rasul akan terjaga secara dhahir atau bathin dari melakukan perbuatan yang
dilarang dalam agama, begitu pula hal yang melanggar etika.
إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
“Sesungguhnya
aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,” (asy-syuara’ 143)
Maka hal
yang muhal atau mustahil jika rasul itu terjerumus ke dalam perzinahan,
pencurian, meminum minutan keras, berdusta, menipu dan lain sebagainya. Rasul
tidak mungkin memiliki sifat hasud, riya’, sombong, dusta dan sebagainya. Jika
para rasul telah melanggar etika berarti mereka telah bekhianat dan Allah tidak
menyukai manusia yang berkhianat.
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الخَائِنِينَ
Allah
berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berkhianat.”(al-Anfal, 58)
3. TABLIGH
(MENYAMPAIKAN)
Sudah
menjadi kewajiban para rasul untuk menyampaikan kepada manusia apa yang
diterima dari Allah berupa wahyu yang menyangkut didalamnya hukum hukum agama.
Jika Allah memerintahkan para rasul untuk menyampaikan wahyu kepada manusia,
maka wajib bagi manusia untuk menerima apa yang telah disampaikan dengan
keyakinan yang kuat sebagai bukti atau saksi akan kebenaran wahyu itu.
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاَتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ
وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَداً إِلاَّ اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيباً
Allah
berfirman, “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka
takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain
kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (al-Ahzab, 39).
Hal
ini bisa dikiyaskan bahwa jika Allah memberikan wahyu kepada para rasul untuk
tidak disampaikan atau dirahasiakan kepada manusia, maka tidak wajib bagi
manusia untuk mempelajarinya. Sedangkan menyampaikan adalah hal yang wajib dan
menyembunyikan adalah hal yang terlaknat dan tercela.
4.
FATHONAH (CERDAS)
Dalam
menyampaikan risalah Allah, tentu dibutuhkan kemampuan, diplomasi, dan strategi
khusus agar wahyu yang tersimpan didalamnya hukum hukum Allah dan risalah yang
disampaikan bisa diterima dengan baik oleh manusia. Karena itu, seorang rasul
wajib memiliki sifat cerdas. Kecerdasan ini sangat berfungsi terutama dalam
menghadapi orang-orang yang membangkang dan menolak ajaran Islam.
Maka
diharuskan bagi kita untuk meyakinkan bahwa para rasul itu adalah manusia yang
paling sempurna dalam penampilan, akal, kekuatan berfikir, kecerdasan dan
pembawaan wahyu yang diutus pada zamannya. Kalau saja para rasul itu tidak
sesuai dengas sifat sifatnya maka mustahil manusia akan menerima dan
mengakuinya. Sifat sifat itu merupakan satu hujjah bagi mereka agar apa yang
disampaikan bisa diterima dengan baik.
وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ آتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ
Allah
berfirman: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk
menghadapi kaumnya.” (al-An’am, 83)
SIFAT-SIFAT MUSTAHIL BAGI RASUL
1.
KIDZIB
Kidzib artinya adalah dusta. Semua
Rasul adalah manusia-manusia yang dipilih oleh Allah SWT sebagai utusan-Nya.
Mereka selalu memperoleh bimbingan dari Allah SWT sehngga terhindar dari
sifat-sifat tercela. Setiap rasul benar ucapannya dan benar pula perbuatannya.
Sifat dusta hanya dimiliki oleh manusia yang ingin mementingkan dirinya
sendiri, sedangkan rasul mementingkan umatnya.
Allah SWT berfirman :
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى
“Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya.”
(An-Najm : 11)
Di ayat yang lain Allah SWT berfirman :
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيْلِ .
لاَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِ . ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَ
“Dan sekiranya dia (Muhammad) mengadakan sebagian
perkataan atau (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya.
Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya.” (Al-Haqqah : 44-46)
2.
KHIYAANAH
Khiyaanah artinya adalah berkhianat
atau curang. Tidak mungkin seorang rasul berkhianat atau ingkar janji terhadap
tugas-tugas yang diberikan Allah SWT kepadanya. Orang yang khianat terhadap
kepercayaan yang telah diberikan kepadanya adalah termasuk orang yang munafik,
rasul tidak mungkin menjadi seorang yang munafik.
Sepanjang sejarah belum pernah ada
seorang rasul yang khianat kepada umatnya. Demikian pula terdahap amanat yang
telah diterima dari Allah SWT. Ketika Rasulullah SAW menunaikan Haji Wada’,
beliau berpidato di Padang Arafah seraya berkata :
أَيُّهَا
النَّاسُ ! فَلاَ تَرْجِعُنَّ بَعْدِيْ كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ
بَعْضٍ أَلاَ لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ . فَلَعَلَّ بَعْضَ مَنْ
يُبَلِّغُهُ أَنْ يَكُوْنَ أَوْعَى لَهُ مِنْ بَعْضِ مَنْ سَمِعَهُ . أَلاَ
بَلَّغْتُ ؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ ! أَيُّهَا النَّاسُ ! إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ ,
وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ , كُلُّكُمْ مِنْ آدَمِ وَآدَمَ مِنْ تُرَابٍ , إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ , لَيْسَ لِعَرَبِيٍّ فَضْلٌ عَلىَ
عَجَمِيٍٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى . أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ ؟ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ ! فَلْيُبَلِّغِ
الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ
“Hai manusia, janganlah engkau kembali menjadi kafir
sesudahku sehingga yang satu golongan memerangi golongan yang lain. Ingatlah !
Yang hadir hendaklah menyampaikan kepada yang tidak hadir. Barangkali orang
yang menerima pesan lebih pandai memelihara (pesan) daripada orang yang
mendengarkannya secara langsung. Bukankah telah kusampaikan? Ya Allah,
saksikanlah !
Hai manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu dan
bahwasanya orang tuamu satu. Kamu semua dari Adam, sedangkan Adam itu dari
tanah. Bahwasanya yang semulia-mulia orang di sisi Allah ialah yang paling
taqwa di antara kamu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang bukan Arab
melainkan dengan taqwa kepada-Nya. Bukankah telah kusampaikan? Ya Allah,
saksikanlah ! Yang hadir hendaknya menyampaikan (pesan ini) kepada yang tidak
hadir.
3.
KITMAAN
Kitmaan artinya adalah
menyembunyikan. Semua ajaran yang disampaikan oleh para rasul kepada umatnya
tidak ada yang pernah disembunyikan. Jangankan yang mudah dikerjakan dan
difahami dengan akal fikiran, yang sulit pun akan disampaikan olehnya seperti
peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Tugas rasul di dunia ini adalah
menyampaikan wahyu Allah SWT kepada umat manusia sebagai pedoman hidup. Semua
rasul bersifat tabligh atau menyampaikan wahyu dan mustahil bersifat kimaan
atau menyembunyikan wahyu yang diamanatkan kepada dirinya. Dengan penuh
semangat dan rasa tanggung jawab, para rasul melaksanakan tugas-tugasnya
walaupun harus menanggung segala resiko yang akan terjadi. Contohnya, Nabi
Ibrahim AS mendapat resiko dari Raja Namrud dan rakyatnya sehingga beliau
dibakar. Nabi Musa AS bersama kaumnya (Bani Israil) bersusah payah
menyelamatkan diri dari kejaran tentara Raja Fir’aun sehingga nyaris tertangkap
olehnya. Nabi Muhammad SAW berlumuran darah saat dilempari batu oleh penduduk
Thaif dan nyaris terbunuh saat akan hijrah ke Madinah. Kesemuanya itu merupakan
resiko yang harus dihadapi para rasul dalam melaksanakan tugas sucinya.
Allah SWT berfirman :
إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوْحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ
يَسْتَوِى الْأَعْمَى وَالْبَصِيْرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُوْنَ
“Aku tidak mengikuti kecuali yang diwahyukan kepadaku,
katakanlah apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Maka apakah
kamu tidak memikirkannya.” (Al-An’am : 50)
4.
BALAADAH
Balaadah artinya adalah bodoh.
Seorang rasul mempunyai tugas yang berat. Rasul tidak mungkin seorang yang
bodoh. Jika rasul bodoh, maka ia tidak akan dapat mengemban amanat dari Allah
SWT. Jadi, mustahil rasul memiliki sifat bodoh.
Allah SWT berfirman :
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَ أَعْرِضْ عَنِ
الْجَاهِلِيْنَ
“Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang yang
mengerjakan ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’rof :
199)
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Setelah kita menjabarkan mulai dari mengenal Rasul
sampai sifat-sifat wajib dan mustahil Rasullullah,maka dapat kita simpulkan
bahwa Rasullullah adalah panutan yang baik untuk kita contoh baik secara bathin dan secara dhohir.
Rasullullah memang wajib kita panuti.
B. CATATAN
PENTING
Saran dari
penulis adalah marilah kita menjadikan kehidupan maupun sifat pribadi beliau
yaitu Rasullullah sebagai contoh atau panutan dalam kehidupan sehari-hari kita
yang sesuai dengan syariah yang semestinya dan sekaligus pembawa kita kedalam
kehidupan yang bahagia baik itu di dunia dan akhirat kelak nanti.
C. Daftar
Pustaka
Suryana,
toto, Pendidikan Agama Islam,
Jakarta, 2002




0 komentar:
Posting Komentar